TAFSIR SYAFAHI: KAJIAN PENAFSIRAN KH. BAHAUDDIN NURSALIM (GUS BAHA) DI YOUTUBE Analisis Makna Kata Farh dalam Qs. Yunus/10:58

Ichsanudin M. Y. Djafar, Ischan (2025) TAFSIR SYAFAHI: KAJIAN PENAFSIRAN KH. BAHAUDDIN NURSALIM (GUS BAHA) DI YOUTUBE Analisis Makna Kata Farh dalam Qs. Yunus/10:58. Other thesis, STKQ Al-Hikam.

[thumbnail of COVER.pdf] Text
COVER.pdf

Download (72kB)
[thumbnail of ABSTRAK.pdf] Text
ABSTRAK.pdf

Download (577kB)
[thumbnail of BAB I.pdf] Text
BAB I.pdf

Download (297kB)
[thumbnail of BAB II.pdf] Text
BAB II.pdf

Download (465kB)
[thumbnail of BAB IIII.pdf] Text
BAB IIII.pdf
Restricted to Registered users only

Download (532kB)
[thumbnail of BAB IV.pdf] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (445kB)
[thumbnail of BAB V.pdf] Text
BAB V.pdf

Download (254kB)

Abstract

Penelitian ini membahas konsep tafsir syafāhī KH. Bahauddin
Nursalim (Gus Baha) dalam menafsirkan makna kata Farh} (senang) pada QS. Yunus/10:58 melalui platform YouTube. Fokus utama kajian ini adalah bagaimana Gus Baha menyampaikan pemahaman kebahagiaan dalam Islam secara kontekstual dan mudah dipahami oleh masyarakat awam. Dalam
penafsirannya, kebahagiaan hakiki dipandang sebagai kesadaran atas rahmat dan karunia Allah, bukan sekadar kenikmatan duniawi yang bersifat material. Penelitian ini juga menyoroti pergeseran tren pengajian dari metode konvensional menuju media digital. Temuan dalam penelitian ini menunjukan bahwa tafsir syafāhī Gus Baha memiliki ciri khas tersendiri, yakni penggunaan bahasa Jawa krama, gaya penyampaian yang santai dan jenaka, serta pendekatan kontekstual yang relevan. Dalam menafsirkan kata Farḥ, Gus Baha menekankan pentingnya bersyukur dan bergembira atas rahmat Allah. Tafsir ini mendapat respons positif dari masyarakat, terlihat dari tingginya jumlah penayangan, komentar, dan tanda suka di kanal YouTube. Gus Baha menekankan bahwa kebahagiaan duniawi seperti harta dan
kekuasaan bukanlah tolok ukur utama dalam Islam, kecuali jika tetap berlandaskan nilai-nilai ukhrawi. Pandangan ini memiliki persamaan dengan penelitian Budi Santoso dan Nasrulloh Nasution dalam Tafsir As-Sa‘dī yang membedakan Farḥ menjadi dua: Farḥ terpuji, yakni kebahagiaan karena amal saleh; dan Farḥ tercela, yaitu kebahagiaan yang melahirkan kesombongan dan kelalaian terhadap Allah. Keduanya menunjukkan kesamaan dalam membedakan kebahagiaan berdasarkan dampaknya terhadap spiritualitas.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan bersifat kepustakaan (library research), yang difokuskan pada analisis konten video tafsir Gus Baha di YouTube. Data dikumpulkan melalui observasi video, dokumentasi, serta analisis respons audiens. Pendekatan deskriptif digunakan untuk mengkaji cara penyampaian, karakteristik penafsiran Gus Baha, dan penerimaan masyarakat terhadap tafsir beliau.

Item Type: Thesis (Other)
Uncontrolled Keywords: Tafsir Syafahi, Gus Baha, Qs. Yunus/10:58, Farh, Kebahagiaan, Dakwah Digital
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc
Divisions: Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Depositing User: Unnamed user with email admin@repo.com
Date Deposited: 06 May 2026 04:45
Last Modified: 06 May 2026 04:45
URI: https://repository.alhikamdepok.ac.id/id/eprint/74

Actions (login required)

View Item
View Item